KPAD Ungkap Data Kasus HIV di Madiun, Hingga Juli Ditemukan 130 Kasus Baru
MADIUN,iNewsMadiun.id - Kasus HIV di Kabupaten Madiun menurut data dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Madiun hingga Juli 2026, jumlah kumulatif pendampingan mencapai 1.648 kasus. Jumlah itu terdiri dari 1.354 HIV, 294 AIDS, dengan 888 klien masih hidup dan 760 meninggal dunia.
Sementara pada tahun 2025 tercatat ada 193 temuan HIV. Data itu menjadi angka tertinggi dalam satu tahun selama periode pendataan. Sementara hingga Juli 2026, telah ditemukan 130 kasus HIV baru tanpa tambahan kasus AIDS, dengan 113 klien masih hidup dan 17 meninggal dunia.
Pengelola Program dan Keuangan Harian KPAD Kabupaten Madiun, Lenny Dwi Ambarsari, mengatakan bahwa angka kasus yang muncul saat ini belum menggambarkan kondisi sebenarnya.
"Kalau kita berbicara penanggulangan HIV/AIDS dan angka kasus, terlebih dahulu kita harus memahami fenomena gunung es. Angka yang muncul sekarang ini baru bagian yang tampak di permukaan, sedangkan yang di bawah, yang belum terdeteksi dan masih berpotensi menularkan penyakitnya, masih banyak yang belum kita dampingi," ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Murut Lenny, secara kumulatif Kecamatan Jiwan masih menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 198 kasus, disusul Saradan 179 kasus, Pilangkenceng 152 kasus, Geger 127 kasus, dan Wungu 119 kasus. apabila melihat perkembangan temuan kasus baru setiap tahun, trennya mulai bergeser.
"Di data memang terlihat Jiwan masih tertinggi. Tapi kalau dilihat dari perkembangan tiap tahunnya, angka dampingan baru mulai bergeser ke Saradan, Pilangkenceng, dan Kare. Jiwan masih tertinggi karena akumulasi angka dari tahun-tahun sebelumnya," jelasnya.
Berdasarkan faktor risiko penularan, hubungan heteroseksual masih menjadi penyumbang terbesar. Dengan jumlah 774 kasus atau 46,97 persen, diikuti IRT/pasangan sebanyak 330 kasus (20,02 persen), pelanggan pekerja seks 165 kasus (10,01 persen), serta kelompok Gay/LSL sebanyak 109 kasus (6,61 persen).
"Masih didominasi heteroseksual. Namun untuk komunitas LSL memang menjadi kelompok komunitas dengan angka tertinggi di Kabupaten Madiun," kata Lenny.
Dari sisi usia, kelompok 31–45 tahun mendominasi dengan 672 kasus (40,78 persen), disusul usia di atas 45 tahun sebanyak 565 kasus (34,28 persen) dan usia 16–30 tahun sebanyak 373 kasus (22,63 persen).
Sementara berdasarkan profesi, kasus terbanyak berasal dari sektor swasta/wiraswasta sebanyak 971 orang (59 persen), diikuti ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 330 orang (20 persen) dan petani sebanyak 110 orang (7 persen).
Untuk menekan penyebaran HIV, KPAD terus melaksanakan skrining melalui Mobile Voluntary Counseling and Testing (VCT) kepada kelompok berisiko secara rutin setiap tiga bulan.
"Skrining HIV terus kami lakukan terhadap kelompok-kelompok berisiko di wilayah Kabupaten Madiun. Rutin kami lakukan setiap tiga bulan sekali melalui Mobile VCT," ungkapnya.
Lenny juga menyebut jumlah ODHA yang menjalani terapi Antiretroviral (ARV) terus meningkat. Menurutnya, KPAD menjalin jejaring pelayanan dengan sejumlah rumah sakit di luar Kabupaten Madiun karena mobilitas kelompok berisiko yang cukup tinggi.
"ODHA yang melakukan terapi ARV untuk masyarakat ber-KTP Kabupaten Madiun mengalami peningkatan signifikan. Sebagai koordinator penanggulangan HIV di Kabupaten Madiun, kami juga berjejaring dengan rumah sakit di luar daerah karena kelompok berisiko memiliki mobilitas yang tinggi," terangnya.
"Langkah yang terus kami lakukan adalah memberikan lebih banyak informasi terkait penyebaran dan penanggulangan HIV, mengurangi stigma di lingkungan masyarakat dengan masuk ke kegiatan warga di tingkat desa, melakukan Mobile VCT secara rutin pada kelompok berisiko, mencari titik-titik hotspot baru untuk menjaring kasus baru, melakukan notifikasi pasangan, hingga masuk ke sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi tentang HIV," katanya.
Menurutnya, kegiatan tersebut terbukti efektif menemukan hotspot baru yang kemudian menjadi fokus pemantauan.
"Dari kegiatan ini kami dapat menemukan titik-titik hotspot baru dari beberapa kelompok berisiko yang akan terus kami pantau perilaku seksualnya," tambahnya.
Lenny menegaskan penanganan HIV tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi yang dihadapi ODHA.
"Kalau sudah berbicara HIV, kita tidak hanya memikirkan sisi medisnya. Yang sulit justru ketika muncul persoalan sosial ekonomi pada ODHA, ditambah jika administrasi kependudukan mereka belum lengkap. Karena itu koordinasi lintas OPD sangat diperlukan untuk menekan berbagai permasalahan yang muncul," ujarnya.
Editor : Arif Wahyu Efendi