MADIUN,iNewsMadiun.id - Puluhan kendaran sepeda motor dan juga mobil yang akan mengisi BBM jenis Pertalite di SPBU 54.632.20 Mojomanis, Kecamatan Kwadungan, Kabupatan Ngawi terpaksa harus putar balik, Selasa (8/9/2026).
Kedatangan mereka langsung diteriaki petugas yang mengatakan bahwa BBM yang tersedia tinggal jenis Pertamax. Teriakan petugas perempuan itu bahkan terdengar hingga diseberang jalan.
Menurut salah satu warga Desa Kwadungan, SPBU tersebut sebenarnya baru saja melakukan pengisian BBM jenis Pertalite. Bahkan, truk tangki yang mengirim BBM bersubsidi jenis pertalite sudah datang sejak pagi tadi.
"Pagi tadi saya kesini mau beli pertalite gak jadi karena pas bareng truk tangki sedang ngisi. Akhirnya saya balik pulang," ujar Madi, saat ditemui didepan SPBU, Selasa (8/9/2026) siang.
Madi yang mengaku membeli pertalite untuk mesin pompa yang digunakan mengaliri tanaman kacang tanahnya itu berinisiatif untuk kembali ke SPBU sekitar pukul 11.00 WIB. Dengan harapan, setelah pengisian tadi pagi selesai, SPBU tersebut langsung melayani pembelian pertalite.
"Padahal tadi pagi sudah ngisi lo, kok sampai sekarang belum buka ya. Saya kesini sudah dua kali ini. Beli pertalite untuk diesel mengaliri tanaman kacang tanah," keluhnya.
Warga yang sehari-harinya bertani itu menyampaikan bahwa sempat mendengar kabar untuk pembelian BBM bersubsidi jenis pertalite saat ini memang dibatasi oleh pusat. Sehingga, SPBU tersebut hanya melayani pembelian pertalite di jam-jam tertentu.
"Katanya sekarang (Pertalite) dijatah dari sananya, buka hanya satu jam. Biasanya pagi buka sebentar, nanti buka lagi jam dua sore," ujarnya.
Setelah menunggu hampir satu jam SPBU tersebut belum juga melayani pembelian pertalite, Madi memilih untuk kembali pulang dengan mengendarai sepeda motor lawasnya. Rasa kecewanya sangat terlihat dari raut wajahnya yang tampak lesu.
Dari pantauan jurnalis media ini, dari pagi pukul 08.30hingga pukul 11.30, jalur pada dua pompa BBM jenis pertalite di SPBU 54.632.20 masih tampak terpasang sebuah papan pemberitahuan bahwa BBM dalam pengiriman. Tulisan berwarna putih menggunakan huruf kapital itu tampak jelas di jalur BBM bersubsidi jenis pertalite tersebut.
SPBU yang ada dijalur Madiun - Ngawi itu sebelumya juga dikeluhkan warga. Bagas, pemuda asal Madiun, mengaku jengkel saat hendak membeli Pertalite di SPBU 54.632.20 tersebut. Pasalnya, ia harus mengantri lama karena banyaknya sepeda motor jenis Suzuki Thunder yang membeli BBM jenis pertalite dengan jumlah tidak wajar. Dalam sekali pengisian, sepeda motor thunder itu bisa seratus ribu lebih.
"Ngantri poll, karena banyak banget sepeda motor thunder om. saat itu Jumlahnya ada 8," ujar Bagas, Senin (7/9/2026) pagi.
Kejadian serupa sebelumya juga dialami jurnalis media ini, saat hendak mengisi Pertalite di SPBU 54.632.20, saat mengantri tiba - tiba dihadang seorang pria paruh baya memakai celana warna hijau, kaos kuning dan topi. Pria yang sekilas seperti petugas SPBU itu kemudian mengatakan bahwa stok Pertalite telah habis.
"Pertalite Habis, pertalite habis," ucap pria tersebut dengan nada keras sambil memegangi sebuah benda yang bertuliskan Pertalite sedang dalam pengiriman.
Anehnya, didepan pria yang mengatakan bahwa pertalite sudah habis itu ada beberapa sepeda motor, 3 diantaranya jenis Thunder yang terlihat masih dilayani operator melakukan pengisian BBM jenis pertalite.
Kejadian ini menimbulkan tanda tanya besar, apakah BBM jenis pertalite itu memang disediakan bagi pengepul saja?
Sementara itu, Wasis, salah satu petugas SPBU menyampaikan bahwa untuk pembelian BBM bersubsidi jenis pertalite tidak setiap saat dilayani. Hanya jam-jam tertentu masyarakat bisa membeli BBM bersubsidi jenis pertalite tersebut.
"Nanti buka jam dua (siang). (Sekarang Pertalite nya ada) heeh," ujar Dimas, salah satu pegawai SPBU sambil menjelaskan bahwa Supervisor SPBU, Suwarno, sedang tidak ada ditempat.
Hal yang sama juga disampaikan petugas SPBU yang lain. Petugas perempuan itu menegaskan bahwa BBM bersubsidi jenis pertalite di SPBU Mojomanis itu saat ini memang dibatasi volume penjualannya.
Editor : Arif Wahyu Efendi
Artikel Terkait
