Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Bantah Klaim DPRD Magetan, Petani: Mahal dan Sulitnya Pupuk Subsidi Karena Kejahatan Sistemik
Advertisement . Scroll to see content

Dianggap Pemicu Rumput Liar, Petani Madiun Pilih Buang Pupuk Subsidi Petroganik

Kamis, 24 September 2026 | 19:50 WIB
  • author Dodik
Dianggap Pemicu Rumput Liar, Petani Madiun Pilih Buang Pupuk Subsidi Petroganik
Beberapa karung pupuk organik yang sudah dibeli petani nampak dibiarkan tertumpuk di teras depan rumah. Bahkan ada karungnya yang sudah robek dan pupuk organiknya berserakan di lantai. Foto: inewsmadiun.id/Dodik.

MADIUN,iNewsMadiun.id - Pupuk bersubsidi dari pemerintah jenis Petroganik tidak dimanfaatkan oleh sebagian petani di Kabupatan Madiun, Jawa Timur. Pupuk tersebut ada yang sebagian dibiarkan tertumpuk diteras depan rumahnya dan sebagian lain tak jelas pemanfaatannya.

‎Dari pantauan jurnalis iNews.id, Kamis (24/9/2026), Pupuk Petroganik yang ditumpuk itu terlihat karungnya sudah kusam dan sebagian sobek. Bahkan, butiran pupuk organik berwarna coklat itu juga terlihat berserakan dilantai rumah warga di wilayah Balerejo.

Tidak hanya di Balerejo, di wilayah Kecamatan Dolopo juga ada petani yang menyatakan hal serupa. Lastri, seorang petani asal Kelurahan Mlilir mengaku tidak memanfaatkan pupuk subsidi organik jenis petroganik yang ditebus suaminya secara paket sejak dulu.

Menurutnya, jika pupuk organik subsidi tersebut disebar justru nanti akan memperbanyak tumbuhnya rumput di sawah dan akan menambah ongkos produksi.

"Kalau pupuk organik itu disebar Mas, nanti rumputnya tumbuh banyak. Ongkos basmi rumput mau tidak mau harus ada. Makanya wis dibiarkan saja di rumah daripada nambahi ragat (nambah biaya). Terus manfaatnya nopo niku (manfaatnya apa itu)?" ucap Lastri saat ditemui di rumahnya di kelurahan Mlilir, Kecamatan Dolopo, Madiun. 

‎Sedangkan di musim tanam ketiga ini, Lastri mengaku tidak mendapatkan pupuk subsidi jenis Urea maupun Phonska. Padahal suaminya terdaftar sebagai petani penerima pupuk subsidi di Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

"Sabtu dan Senin kemarin cari di kelompok tidak ada, lalu suami saya ke kios. Sampai sana di jawab oleh pemilik kios bahwa semua jatah pupuk sudah diambil kelompok tani. Ya terpaksa nanti beli pupuk impor lagi Mas, diikhlaskan saja," ungkapnya.

Sebelumnya, salah satu petani Desa Garon menyampaikan bahwa pupuk petroganik tersebut jika diaplikasikan membuat pertumbuhan rumput semakin liar. Ia  memilih untuk tidak memanfaatkan pupuk tersebut dan membuangnya disekitar rumah pompa.

‎"Organik itu harus dibeli karena itu paketan. Setelah dibeli dibuat uruk, karena kalau dibuat pupuk, rumputnya justru tumbuh banyak," ujar WSI, kepada iNews.id, pada Senin (21/9/2026) lalu.

‎Hal senada juga disampaikan serang petani berinisial ST, setiap musim tanam tiba, dia mendapat jatah 40 karung pupuk petroganik. Karena tidak bermanfaat untuk tanaman padinya, puluhan karung pupuk bersubsidi itu juga dijadikan urukan dibelakang rumah nya.

‎"Setiap panen saya dapat 40 karung pupuk organik, kemudian saya gunakan uruk di belakang rumah. Soalnya itu ditanah tidak ada manfaatnya dan justru rumputnya itu tambah lebat. Saya jelas keberatan, kalau bisa itu ditiadakan saja," keluhnya.

‎Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun, Zainul Arifin, menyatakan bahwa pupuk petroganik yang dikeluhkan petani karena mempercepat pertumbuhan rumput tersebut, sebenarnya sangat bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah.

‎"Ya bagus mas buat memperbaiki struktur tanah dan menambah kandungan organik dalam tanah," kata, Zainul yang dikonfirmasi iNews.id, Kamis (24/9/2026).

‎Zainul juga menyampaikan, selama ini pihaknya sudah sering mensosialisasikan kepada para petani agar melakukan pemupukan secara berimbang, antara pupuk organik dan pupuk non organik. Sehingga, pupuk petroganik yang sudah dibeli itu bisa dimanfaatkan.

‎ "Setiap ada momen pertemuan sosialisasi dan penyuluh juga menyampaikan pemupukan secara berimbang," kata Zainul yang dikonfirmasi iNews.id, Kamis (24/9/2026).

‎Terkait adanya petani yang belum mendapat jatah pupuk subsidi di musim tanam ke tiga ini dan ketersediaan stoknya, pihaknya menyarankan agar petani berkoordinasi dengan penyuluhnya. 

"Kalau ada petani yang pingin ngecek suruh koordinasi sama penyuluhnya Mas biar dicek kuotanya," tegas Zainul Arifin.

Editor: Arif Wahyu Efendi

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut