Usai Permasalahan Pupuk, Petani Magetan Keluhkan Kebijakan PLN dari Prabayar ke Pascabayar
MADIUN,iNewsMadiun.id - Kenaikan tarif listrik untuk program PESTA atau Program Pemakaian Daya Sementara PLN Magetan memicu keluhan petani. Para pemilik sumur sibel di wilayah dataran tinggi Magetan mengaku terbebani karena biaya per bulan melonjak.
Hal itu setelah PLN Magetan menetapkan kebijakan pemakaian listrik dari prabayar menjadi pascabayar untuk penggunaan sumur pengairan milik petani.
Salah satunya Dimyati Dahlan, petani asal Desa Banjar Panjang, Kecamatan Ngariboyo, Magetan. Ia mengaku kaget setelah mendapat pemberitahuan dari pihak PLN melalui WhatsApp, Selasa pagi (01/09/2026).
Dimyati mengaku menggunakan sumur sibel berdaya 23.000 VA dengan motor submersible 20 HP. Sumur dengan kedalaman 150 meter tersebut menjadi andalan di wilayah dataran tinggi, terutama saat musim kemarau untuk lahan pertanian di desanya.
"Selama ini kami pakai program PESTA biayanya sekitar Rp1 juta aktivasi, dan terus dapat diisi pulsa sesuai kebutuhan bisa mencapai 5 juta dalam satu bulan. Tapi dengan ada kebijakan baru PLN Magetan yang membebani Rp8 juta per bulan selama 30 hari ini sangat mencekik petani pemilik sumur dan ini kontroversi dengan program pemerintah untuk ketahanan pangan," keluh Dimyati.
Ia menambahkan, persoalan petani saat ini datang bertubi-tubi. Setelah dihadapkan pada kelangkaan pupuk, kini ketersediaan air dari sumur dalam juga terancam karena mahalnya biaya listrik.
Jika petani keberatan dan tak mampu membayar makan akan berdampak pada pengairan hingga berimbas pada hasil panen.
"Sumur ini efektif berfungsi di musim kemarau. Ketika tahu musim kemarau tahun ini dan musim hujan baru diperkirakan pemerintah bulan Januari, maka petani bergantung pada sumur dalam. Kalau memanfaatkan di masa-masa itu lalu dipatok Rp8 juta per 30 hari, kan sangat berat. Putarannya tidak ada Rp8 juta per bulan. kalau air kurang dan tanaman gagal panen, petani rugi. Pak Presiden tolong petani seperti kami," tambahnya.
Para petani berharap PLN Magetan meninjau ulang kebijakan tersebut agar sektor pertanian di wilayah dataran tinggi tetap bisa bertahan.
Sementara itu PLN Magetan saat dikonfirmasi terkait hal itu belum memberikan banyak pernyataan. Mereka meminta media untuk bersurat.
"Nggeh pak. Saget bersurat nggeh," jawab petugas PLN yang sebelumnya sempat memberitahu petani perihal kenaikan tarif itu melalui WhatsApp.
Editor: Arif Wahyu Efendi