MADIUN,iNewsMadiun.id – Untuk mencukupi kebutuhan masyarakat dalam hal ketersedian air bersih, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Dharma Purabaya, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, memiliki 70 titik sumur. Sayangnya, dari 70 sumur yang dimiliki perusahaan pelat merah itu, ada lima sumur yang mangkrak dan tidak bisa lagi difungsikan.
Kualitas air yang keruh dan berbau diduga menjadi penyebab utama sumur - sumur tersebut akhirnya tidak digunakan. Salah satu sumur yang saat ini mangkrak itu berada di Desa/Kecamatan Mejayan.
Pantauan di lokasi, kondisi sumur bor yang informasinya baru dibuat tahun 2019 tersebut tidak lagi terawat dan dipenuhi rumput. Instalasi pipa dan panel terlihat kusam, sementara kabel listriknya bergelantungan dan sudah terputus.
Direktur Utama Perumda Tirta Dharma Purabaya, Kabupaten Madiun, Imansyah Novianto menyampaikan bahwa untuk lima sumur yang saat ini mangkrak itu akan segera ditutup permanen. Salah satunya yang ada di Desa Mejayan tersebut.
"Kita akan tutup permanen. Yang pertama listrik akan kita putus karena selama ini kita membayar bebannya terus," ujar Imansyah, saat ditemui di ruang nya, Jumat (13/2/2026).
Imansyah menyebut, Meskipun untuk membuat lima sumur yang saat ini tidak bisa difungsikan itu menghabiskan anggaran kurang lebih Rp4 miliar. Pihaknya tidak ragu menutup permanen sumur-sumur tersebut.
"Rata-rata satu sumur anggarannya kurang lebih Rp 800 juta. Jadi Rp 800 kali 5 sekitar Rp4 miliar," ucapnya.
Dia menegaskan, sumur yang mangkrak karena kualitas air yang tidak layak itu bukan sepenuhnya kesalahan pihak PDAM. Pasalnya, dalam perencanaan PDAM sudah menggandeng tim survei untuk memprediksi debit air. Sedangkan kualitas air itu akan diketahui setelah pengeboran selesai.
"Sumur bawah tanah yang bisa diketahui saat perencanaan itu adalah debit air. Tapi, kalau kualitas tidak bisa. Karena harus di bor dulu nanti baru tahu kualitas airnya," ucapnya.
Editor : Arif Wahyu Efendi
Artikel Terkait
