Ekonomi Tetap Tumbuh, BI Kediri Ungkap Biang Inflasi di Mataraman
KARANGANYAR,iNewsMadiun.id -Meski ekonomi tetap tumbuh, tiga komoditas menjadi penyebab inflasi di wilayah Mataraman. Cabai merah, tomat, dan bawang merah menjadi biang utama inflasi di wilayah kerja Bank Indonesia Perwakilan Kediri. Tiga komoditas pangan tersebut terus naik dan menekan harga di pasar, meski inflasi secara umum masih terkendali.
Hal itu disampaikan oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Deasi Surya Andarina, di Karanganyar, Jumat (6/11/2026).
Bank Indonesia mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,30 persen secara month to month (mtm) atau 3,28 persen secara year on year (yoy). Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5 persen plus minus 1 persen.
"Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok volatile food, yakni cabai merah, tomat, dan bawang merah," ujar Deasi dalam paparannya.
Kenaikan harga tiga komoditas itu dipicu kemarau panjang dan keterbatasan pasokan di sejumlah daerah penghasil. Akibatnya, harga di tingkat pedagang hingga konsumen ikut terkerek.
Bagi masyarakat, kenaikan harga pangan ini paling terasa karena merupakan kebutuhan harian. Terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah, kenaikan harga cabai, tomat, dan bawang merah langsung menggerus daya beli.
Di tengah tekanan harga pangan, perekonomian Mataraman pada Triwulan II 2026 tetap tumbuh 5,10 persen (yoy). Angka tersebut mendekati pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen (yoy), meski masih di bawah Jawa Timur yang tumbuh 5,84 persen (yoy).
Pertumbuhan Mataraman ditopang oleh Industri Pengolahan, Perdagangan Besar dan Eceran, serta konstruksi.
Secara wilayah, Kabupaten Ngawi mencatatkan pertumbuhan tertinggi se-Mataraman sebesar 9,19 persen (yoy). Sementara Kota Kediri mencatatkan pertumbuhan terendah sebesar 3,22 persen (yoy).
Pertumbuhan ekonomi nasional sendiri ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
Untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20-21 Oktober 2026 memutuskan menahan BI-Rate di level 5,75 persen.
Suku bunga Deposit Facility naik menjadi 5,00 persen, sementara Lending Facility tetap di level 6,50 persen.
Kebijakan tersebut diambil di tengah ketidakpastian global. Berdasarkan laporan World Economic Outlook (WEO) IMF, pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diproyeksikan melambat menjadi 3,1 persen, dari 3,5 persen pada 2025.
Perlambatan dipicu guncangan geopolitik, termasuk konflik Amerika Serikat-Iran yang berpotensi menaikkan harga energi, inflasi global, dan mengganggu rantai pasok.
Menurut IMF, setiap kenaikan harga minyak 10 persen dalam setahun dapat mendorong inflasi global naik 40 bps dan menahan pertumbuhan output global 0,1 hingga 0,2 persen.
Dari sisi perbankan, penyaluran kredit di wilayah kerja Bank Indonesia Kediri per Juli 2026 masih mengalami kontraksi sebesar minus 7,24 persen (yoy), namun mulai mereda.
Kredit konsumsi masih tumbuh 4,38 persen (yoy). Sebaliknya, kredit modal kerja terkontraksi minus 16,64 persen dan kredit investasi minus 1,66 persen.
Secara sektoral, kredit pertanian kembali tumbuh 6,18 persen. Sementara kredit industri pengolahan masih terkontraksi minus 28,15 persen dan perdagangan minus 4,77 persen.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 5,59 persen (yoy), ditopang giro sebesar 45,69 persen dan tabungan 5,51 persen. Deposito terkontraksi minus 9,23 persen. Adapun rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 3,71 persen.
Dari sisi dunia usaha, kinerja pelaku usaha pada Triwulan II 2026 membaik dibandingkan triwulan sebelumnya dan masih optimistis. Purchasing Managers' Index (PMI) masih berada di zona ekspansi dan penyerapan tenaga kerja membaik.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga masih berada di level optimistis di atas 100, meski cenderung termoderasi akibat persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja yang melemah.
Editor: Arif Wahyu Efendi